May Problema…
Madalas na sumasagi sa ating isipan ang tanong na; bakit di tayo nauubusan ng problema? Tungkol man ito sa buhay pag – ibig, sa paaralan, sa pamilya, o tungkol sa kahit anong bagay. Sadyang di tayo nauubusan ng problema. Maging ako man ay tinatanong at pinagiisipan yan. May naisip akong sagot, ngunit di ko alam kung tama ako. Sabihin nalang natin na isa itong opinyon tungkol sa paksa na iyan.
Maari kasi na kaya di nawawalan ng problema ang tau ay dahil sa patuloy tayong tumatalino. Sa aking palagay ay sanhi ng karamihan sa mga problema natin ay bunga ng malalim na pagiisip. Napapnsin ko lang kasi na sa patuloy nating pagiisip ay nadadagdagan ang mga bagay na maaring magdulot ng ginhawa sa ating buhay, ngunit ika ng ng kasabihan, ang barya ay may dalawang mukha at ang kabilang dako ng pagginhawa natin ay ang problema na idudulot nito para guminhawa tayo. Tulad nalang ng mga modernong sasakyan. Oo, napadali nga ang buhay natin dahil di na napapadalas ang paglalakad at nakaupo na lamang tayo habang bumibiyahe, ngunit dulot naman nito ay polusyon na nakakasama sa ating kalusugan at sa mundo na ating ginagalawan. kung naisip ba ng tao ang pagimbento ng sasakyan ay madadagdagan ang polusyon? Marami pang argumento akong argumento tungkol sa mga bagay na iyan. ngunit uulitin ko, opinyon lamang ito.
Di ko naman sinasabi na masama ang magisip ng malalim upang mapaginhawa ang ating buhay. Maganda nga ang pagiisip ng malalim upang mahubog ang ating mga isipan na gumawa ng mga bagay na magdudulot ng kabutihan ng walang mikha ng problema. Salamat at magandang [ipasok ang panahn ng pagbasa.Ü
Sebuah Catatan dari Perjalanan
Jarum jam di dinding stasiun menujukkan pukul sembilan lewat. Pesan singkat yang aku kirimkan belum pula ia balas. Aku pun bingung. Kuputuskan saja untuk tetap menunggu di sini. Toh kami sudah berjanji akan bertemu di stasiun ini tepat pukul sembilan.
Tak lama kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke ponselku. Ternyata dari dia. Ups, baru berangkat dari kos. Wah bisa lama menunggu aku di sini. Biarlah… Aku keluarkan sebuah buku dari tasku. Sekedar mengisi waktu daripada hanya diam menunggu.
Tak terasa lima belas halaman novel tulisan Ahmad Tohari telah kubaca ketika sosok itu muncul dengan senyumnya di pintu masuk stasiun. Walau tersenyum, tetap saja masih tergurat aura kesedihan. ”Ah, siapakah laki-laki bodoh itu yang meninggalkan perempuan semanis dirimu”, tanya dalam benakku.
”Dah lama nunggu mas?”, itulah kata pertama yang meluncur dari bibirmu.
”Ya…, semenjak aku mengirim sms tadi. Kok sudah nyampe, emang kosmu dimana? Bukannya Dermaga jauh?”, jawabku.
”Semalam aku nggak tidur kos kok, Mas. Aku tidur di tempat teman. Nyari suasana baru.”
”Oh…”, hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku.
Kami pun akhirnya berjalan keluar ke arah jalan raya. Kami putuskan untuk segera menuju Kampus IPB. Memang hari itu dia berjanji untuk mengantarkan aku untuk mengelilingi Kampus IPB. Ya…, sekedar alasan agar aku bisa berjalan-jalan dengannya.
Dari Stasiun menuju Kampus IPB ternyata cukup jauh. Harus naik angkot sampai dua kali. Pertama naik angkot warna hijau jurusan Terminal Bubulak. Dari Terminal Bubulak naik angkot warna biru jurusan Kampus Dalam. Total perjalanan memakan waktu sekitar tiga perempat sampai satu jam dari Stasiun ke Kampus IPB.
Tak banyak yang kami bicarakan selama di angkot. Sesekali aku hanya mencoba mencuri pandang ke arahnya. Ah…, ternyata hanya sampai sejauh itu keberanianku. Yang seketika merasa menjadi seorang pengecut.
Akhirnya kami sampai juga di Kampus IPB. Kampus yang cukup asri. Pohon-pohon besar ada di sana-sini. Aku langsung merasa nyaman. Suasana yang tak jauh berbeda dengan suasana kampusku. Perjalanan kami mulai dari fakultas tempat ia melanjutkan studinya, Fakultas Pertanian. Kemudian kami menyusuri Kampus ke arah utara. Sampai akhirnya ke Fakultas Kedokteran Hewan, melewati kompleks hutan kecil kampus, menyusuri danau, naik menuju kompleks Perpustakaan Universitas, dan akhirnya kembali lagi di Kompleks Fakultas Pertanian.
Tiba-tiba perutku mulai meronta. Meminta haknya untuk segera dipenuhi. Kami putuskan untuk makan siang di kantin. Menu yang kupilih, gado-gado plus es teh manis. Dia hanya memesan minuman saja.
”Nggak makan?”, tanyaku.
”Nggak, Mas. Nggak lapar.”
”Emang tadi pagi sarapan?”
”Iya, sedikit sih.”, jawabnya sambil berusaha mengembangkan senyum. Namun masih saja kesedihan tergurat jelas di wajahnya. Masih sangat jelas.
Ah…, seandainya aku boleh dan bisa menghapus sedih yang ada di dirimu. Apapun caranya itu, pasti akan kulakukan. Akupun semakin penasaran, laki-laki seperti apakah yang tega membuatmu seperti ini.
Menteng Raya 62, 27 September 2006
Ternyata Menjadi Pendengar Yang Baik Itu Susah Ya…
Pelajaran ini aku dapat dalam beberapa bulan ini. Mendengar, mungkin bagi kita sederhana, terasa mudah, simpel. Intinya adalah sesuatu yang mudah dan sangat mudah. Tapi ternyata itu adalah sesuatu yang sangat sulit, membutuhkan kesabaran yang luar biasa, menahan ego untuk bertanya atau menyanggah. Menahan nafsu untuk mengungkapkan apa yang ada dalam isi kepala kita. (more…)
Belajar Bersama
Baru kali ini aku benar-benar percaya dan merasakan sendiri, bahwa sekumpulan orang-orang yang mau saling belajar dan saling memahami akan jauh lebih produktif. Akan jauh lebih baik daripada sekumpulan orang-orang cerdas, intelek dan pintar namun egois dan saling menegasikan satu dengan yang lain. (more…)
“LIv1N6 PaRaDOk5″
“Living Paradoks”, pernah mendengar sebelumnya? Aku baru saja mendengarnya. Aku mendapatkan istilah ini dari seorang teman, pada sebuah perbincangan di sebuah malam, di sebuah café, tepat di tengah-tengah jantung Ibukota Negara kita yang makin lama makin absurd ini.
Living paradoks, dalam terjemahan bebas berarti paradoks yang hidup/nyata. Living paradoks digambarkan sebagai pertentangan dari dua hal yang saling menegasikan namun berada dalam sebuah entitas yang sama. Kebetulan entitas itu berwujud manusia. (more…)
SAHABAT
Satu demi satu, motor yang terparkir di garasi samping rumah aku keluarkan ke teras depan. Memang hari masih pagi, teman-teman yang lain masih tertidur dengan pulasnya. Kecuali Rama yang semenjak shubuh tadi pergi untuk mengantar koran, dia memang nyambi kerja sebagai loper koran. Jam di dinding masih menjukkan pukul enam kurang lima belas menit. Tak mengherankan memang, tadi malam kita begadangan sampai adzan shubuh terdengar. Entah mengapa, tiba-tiba kami berkeinginan untuk sekedar berbagi cerita. Sesuatu yang sudah mulai jarang kita lakukan. Terutama ketika berbagai macam praktikum dan laporan sudah mulai menerjang tanpa henti. Memang berbagi cerita menjadi hal yang sering kami lakukan ketika memasuki masa awal-awal kuliah.
Kami tinggal berenam di rumah kontrakan ini. Aku dan tiga temanku, Ahmad, Dzakir dan Rifai, memang sudah sahabat lama. Kami berteman semenjak masih duduk di bangku SMA. Sedangkan satu orang yang lain, Ivan, adalah teman kuliahku satu angkatan dan satunya lagi, Rama, teman kuliah dari Dzakir. Rama dan Ivan sebenarnya kami ajak tinggal di kontrakan ini hanya untuk memenuhi kuota dan memperingan biaya urunan kontrakan. Lumayan, kami mengontrak rumah mungil dengan tiga kamar ini empat juta pertahunnya. Kami sudah terhitung satu tahun lewat delapan bulan tinggal di rumah ini.
SAUJANA KEHIDUPAN
Malam ini terasa sangat lambat. Entah untuk keberapa kali aku melihat jam tanganku. Ingin rasanya waktu segera berlalu dan segera pula aku bertemu dengan keluargaku. Hanya suara dentuman roda kereta yang beradu dengan rel kereta api sajalah yang menemani. Penumpang lain? Mereka masing-masing sudah sibuk sendiri dengan mimpinya. Rasa rindu yang lama terpendam semakin membuat malam ini terasa makin panjang. Entahlah, tiba-tiba saja aku teringat dengan masa laluku saat aku pertama kali menginjakkan kaki di Jogja.
Saat itu aku masih duduk di kelas satu SMU, di sebuah SMU Negeri favorit yang ada di Bandung. Setelah melalui perdebatan yang panjang dengan ayah dan ibu, akhirnya aku mengalah. Menerima untuk pindah sekolah ke Jogja. Mereka mengutarakan seabrek alasan yang bagiku terlalu berlebihan pada saat itu. Alasan yang akhir-akhir ini baru aku bisa mengerti.
MARIETA DAN MOTOR BUTUTKU
Bagi banyak orang, mungkin motorku sudah layak untuk segera dimusiumkan. Namun aku berpendapat lain. Terlalu banyak kenangan yang aku punyai dengan motor ini. Berderet-deret peristiwa dan kejadian yang telah kulalui dengan motor butut ini. Motor ini pernah sangat berjasa mengantarku ke sekolah tiap hari di tiap pagi sewaktu masih SMA dulu, mulai dari kelas satu hingga akhirnya aku lulus. Motor yang setia mendengar keluh kesahku dikala aku sedang gelisah, menemaniku menghabiskan malam sambil duduk merenung di sudut remang kota. Motor yang mengajarkan padaku, bahwa ternyata hidup prihatin itu bisa pula dinikmati.
Namun dibalik semua kisah itu, motor inilah yang mengajarkan padaku, bahwa memang masih ada perempuan yang tak menilai laki-laki hanya dari materi semata. Mengajarkan bahwa kesetiaan dan menerima apa adanya ternyata masih bisa ditemui di tengah dunia yang makin materialis dan penuh perhitungan untung-rugi.
KISAH SEBATANG POHON
Bertahun-tahun sudah, aku dan teman-temanku ada di sini. Di sebuah sudut di tengah kota. Kami harus berdiri menghadapi dinginnya malam dan teriknya sinar mentari. Namun kami selalu merasa bahagia. Kami bahagia karena selama bertahun-tahun di sini kami dapat melihat begitu banyak kejadian. Mulai dari kejadian-kejadia sederhana dan biasa saja sampai kejadian yang begitu luar biasa bagi kami. Namun di sini yang lebih sering kami dapati adalah lalu-lalang orang-orang yang berpergian.
ARTI SEBUTIR PADI
Siang itu ketika sedang asyik bermain kelereng tiba-tiba Dede lapar. Dede ingin sekali makan. Setelah berpamitan pada teman-temannya, Dede pulang. Sesampainya di rumah, Dede mencari ibunya.
“Ibu, Dede lapar. Dede pengen makan soto. Tapi sotonya buatan Ibu.” Dede berkata pada ibunya.